Rabu, 21 Desember 2011

Tugas 3

Argumen Deduktif

Premis 1 : Semua manusia mempunyai keinginan yang tak ada batasnya

Premis 2 : Semua perempuan adalah manusia

Maka       : Setiap perempuan mempunyai keinginan yang tak ada batasnya

Argumen Induktif

Premis 1 : Saya ingin mempunyai mempunyai tas, sepatu dan aksesoris lainnya

Premis 2 : Teman wanita saya ingin mempunyai tas, sepatu dan aksesoris lainnya

Premis 3 : Adik perempuan saya ingin mempunyai tas, sepatu dan aksesoris lainnya

Maka       : Semua perempuan ingin mempunyai tas, sepatu dan aksesoris lainnya.

Sebagai seorang mahasiswi, kebutuhan dan keinginan saya meningkat. Selain kebutuhan pokok, seperti makan dan minum, kebutuhan kuliah, dan kebutuhan kost, saya juga mempunyai keinginan untuk membeli banyak barang-barang, seperti  tas, sepatu, baju, dan masih banyak lagi pernak-pernik seorang wanita yang pasti tak ada batasnya. Selain saya, ternyata semua teman-teman wanita saya juga mempunyai keinginan yang sama seperti saya. Namun, kebutuhan dan keinginan tersebut tidak selalu bisa langsung didapatkan karena masalah dana.
Dari Fenti

 

Kamis, 15 Desember 2011

Tugas Ke 3: Framework and Logics







 

Untuk Kelas F, tugas dikumpulkan dalam bentuk hard copy (di-print) pada pertemuan selanjutnya Jumat 23 Desember 2011 pukul 07.00.

Jumat, 09 Desember 2011

Bridging Akuntansi 2011: Mahasiswa Dituntut Mandiri

Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tertinggi selalu dituntut untuk memiliki dosen sebagai pengajar yang berkualitas. Tidak seperti guru, seorang dosen lebih diposisikan sebagai fasilitator pengembangan intelektual mahasiswa. Permasalahannya, mahasiswa baru seringkali terjebak pada lingkungan SMA dengan keberadaan guru sehingga kesulitan melakukan pengembangan diri.


Demikian disampaikan Ketua Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahim Abdurahim, SE., M.Si, Akt di sela-sela kegiatan Bridging Mahasiswa Akuntansi UMY 2011/2012, “Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant” yang berlangsung sejak 3 Desember 2011 hingga 21 Januari 2012 mendatang, di Kampus Terpadu UMY.


Menurut Ahim, berbeda dengan guru sekolah yang benar-benar mengarahkan siswa, dosen lebih diletakkan sebagai pemberi ilmu dalam perkuliahan, dan fasilitator saja. Mahasiswa dituntut untuk tidak terpaku hanya pada apa yang diberikan oleh dosen di kelas. Mahasiswa sepantasnya mengembangkan pengetahuan mereka di berbagai sarana. “Dosen bukan segala-galanya. Logikanya, saat lulusan perguruan tinggi diwawancarai untuk masuk kerja, bukan dosen yang mewawancarai mereka. Mereka perlu referensi yang jauh lebih dari yang ada di perkuliahan” terangnya.


Mahasiswa juga dituntut untuk mandiri dalam memilih minat apa yang ingin mereka kembangkan. Fasilitas-fasilitas non-kulikuler, himpunan mahasiswa misalnya, dibentuk hanya sebagai sarana memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mahasiswa untuk berekspresi. “Universitas hanya memberi sarana, mahasiswa harus punya ide sendiri dalm mengadakan kegiatan seminar, lomba-lomba, atau kegiatan lain. Softskill seperti ini mengantarkan mereka ke pintu dunia kerja”, jelasnya.


Salah satu pengembangan intelektual lain menurut Ahim cukup berpengaruh terhadap dunia kerja adalah kemampuan menulis menulis ilmiah. Menulis secara ilmiah menurutnya dapat mengasah mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis dan logis. Di dunia kerja, hal semacam itu merupakan kemampuan dasar. Ditambah lagi dalam membuat keputusan secara akurat berdasarkan data yang akan ada dalam karya ilmiah dan dunia kerja.


Terkait dunia kerja, Ahim menilai, meskipun tugas dosen adalah sebagai pengajar di kelas, dukungan dosen yang juga berpengalaman sebagai praktisi Akuntansi tetap diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar perkuliahan tidak terpaku pada teori saja, sehingga mahasiswa memperoleh bayangan jelas. “Mahasiswa kedokteran saja pengajarnya seorang dokter. Mustahil jika seorang calon ahli keuangan daerah diajar oleh orang yang tidak tahu keuangan daerah itu seperti apa”, tandasnya.


Bridging Mahasiswa Akuntansi, merupakan program pengenalan dan penguatan kemampuan akademik serta softskill menghadapi sistem dan lingkungan belajar yang baru. Dalam program ini, para dosen akan memberikan sejumlah materi untuk tujuan tersebut, seperti kemampuan penulisan ilmiah, diskusi, presentasi, etika akademik, serta Bahasa Inggris.



Sumber: Humas UMY

Mahasiswa Ideal

Mahasiswa Ideal, menjadi ideal adalah sebuah pengharapan yang dibaringi tindakan. Menjadi ideal menuju kesempurnaan adalah proses panjang yang harus dilewati, diwujudkan. Terus berusaha, tanpa kenal kata henti adalah menjadi kata kuncinya. Seorang mahasiswa akan dikatakan mahasiswa mendekati ideal, bila : Mengenali sejarah bangsa hingga dirinya sendiri, jujur dalam menilai diri sendiri, dan berlaku jujur pada yang lain, berjiwa sosial, atau anti individualistic, beretos kerja yang tinggi (kerja ‘keras & cerdas’) dan berakhlak terpuji.

Setelah seseorang memiliki predikat mahasiswa, terdapat tiga peran penting yang harus diembanya; 1) agen perubahan, 2) penjaga nilai, dan 3) cadangan masa depan. Karena itu mahasiswa ideal adalah mereka yang dapat menyadari, memahami, dan menjalankan peran yang diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya.

Sebagai seorang agen perubahan dituntut untuk memberikan pengaruh kepada manusia yang lain sehingga perubahan itu dapat terjadi di sekitarnya. Ini menuntut adanya pengetahuan yang cukup tentang manusia. Di sinilah letak pentingnya kapasitas sosial politik. Agar para agen tersebut dapat berkomunikasi secara baik dengan manusia lainnya untuk menyampaikan gagasan perubahan yang dibawanya serta efektif dalam merekayasa perubahan sosial di sekitarnya.

Mahasiswa sebagai penjaga nilai memerlukan kapasitas akhlak dan moral (Moral Capacity) yang baik. Dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa akar permasalahan yang ada di bangsa ini adalah busuknya moralitas. Mahasiswalah yang masih dianggap idealis untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah. Karena mahasiswa dinilai tidak memiliki kepentingan politis dalam memperjuangkan apa yang dikatakannya. Karena itulah gerakan mahasiswa sering disebut sebagai gerakan moral.

Peran yang ketiga adalah sebagai cadangan masa depan Mahasiswalah yang akan mengisi pos-pos kepemimpinan di bangsa ini. Mereka adalah calon ilmuan, insinyur, dokter, menteri, jaksa, polisi, presiden, dsb. Untuk bisa memimpin, kemampuan retorika dan moralitas yang baik saja tidak cukup. Melainkan diperlukan juga kompetensi kogkrit yang mumpuni (Intelectual Capacity) di bidang masing-masing.  J J J

 






Kasus dilematis di bisnis dan akademik.

1.Kharis berasal dari Kebumen, dia adalah seorang manajer sebuah perusahaan yang memproduksi genteng. Motto perusahaannya adalah “Kami utamakan Kualitas dan Kepercayaan Konsumen”. Pada suatu saat dia mendapat order pembuatan genteng berjumlah 1500 buah dari sebuah yayasan yang ingin membangun gedung. Menjelang hari kesepakatan pengiriman genteng Soka berkualitas yang benar jadi hanya 1000 buah. Kemudian atas masalah ini beberapa stafnya memberikan pendapat. Antara lain, dengan cara tetap membuat seluruh sisanya (500 buah) tapi dengan kualitas yang kurang. Cara yang kedua adalah membeli genteng dari produsen lain yang kualitasnya baik, tetapi dengan begitu keuntungan yang nanti didapatkan akan berkurang.

Dari kasus yang dihadapi saudari Kharis yang menjadi permasalahanya bagaimana membangun kepercayaan pelanggan. Dalam dunia bisnis, kepercayaan pelanggan memang suatu yang mutlak. Kepercayaan pelanggan yang diperoleh akan berakibat kepada munculnya loyalitas pelanggan kepada kita, disaat – saat kita dalam kondisi yang sulit, pelanggan datang kepada kita sebagai penolong dengan tetap memperhatikan dan mendorong kita agar tetap teguh dalam suatu rencana. Memegang kepercayaan pelanggan, tentu akan mendapatkan imbal balik yang paling berharga dari pelanggan, yaitu dia selalu mendapatkan informasi langsung dari pelanggannya, apa yang baik dan apa yang buruk atas barang atau jasa yang ditawarkan. Nah, hal sebaliknya, bila kepercayaan itu sirna, yang didapatkannya adalah permusuhan, sudah banyak contoh di dunia ini, kehilangan kepercayaan pelanggan, akan berakibat munculnya musuh baru. Membangun kepercayaan pelanggan harus berlandaskan satu petunjuk yang pasti, yaitu suatu petunjuk yang memiliki visi dan misi yang jauh melihat kedepan. Dengan berpegang kepada rencana strategik dan rencana operasional yang baku, visioner maka tidak ada kekhawatiran bagi yang menjalankannya. “Pelanggan adalah raja”, demikian pameo yang sering didengar dalam dunia pemasaran. Bahkan pelanggan juga manusia, ungkap seorang penyanyi, nah dengan sifat itu hal utama yang harus dilakukan adalah menjaga hati para pelanggan dengan berbuat tidak menyakiti hatinya. Kepercayaan pelanggan tidak begitu saja muncul, tetapi harus menjalani beberapa ujian – ujian untuk meraihnya. Tidak mungkin kita berpangku tangan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Melakukan pengorbanan demi pelanggan, pengorbanan disini bukan berarti kita harus mengorbankan tujuan organisasi / perusahaan, tetapi mau berbuat lebih kepada pelanggan kita dengan cara memberikan apa yang telah menjadi hak mereka dengan tidak mengurangi bahkan melebihkan atas hak-hak mereka.

Maka dari itulah, sebaiknya yang dilakukan Kharis sebagai pengambil keputusan adalah mengambil cara dengan membeli genteng dengan kualitas baik dari produsen lain walaupun harus mengorbankan sebagian keuntungan yang nanti akan di dapat. Tentunya hal ini demi membangun kepercayaan konsumen terhadap pelayanan atas barang yang dia jual. JJJ

2.Ilham adalah seorang aktivis di sebuah organisasi himpunan mahasiswa. Di suatu waktu dia menghadapi satu masalah, dia harus membuat suatu kepustusan untuk memilih salah satu kepentingan.  Satu saat dia mempunyai jadwal pertemuan/ rapat di organisasinya, dia adalah ketua panitia kegiatan seminar nasional. Pada saat yang sama dia ada jadwal kuliah yang pertemuan kali itu dosen akan mengadakan responsi. Dalam hal ini Ilham mempunyai pilihan yang dilematis.

Pada kasus ini Ilham dihadapkan pada benturan antara kepentingan organisasi dan kepentingan akademisnya. Meskipun sulit dia harus membuat keputusan untuk memilih mendahulukan salah satu kepentingan. Pengambilan keputusan membutuhkan berbagai pertimbangan. Di organisasi Ilham mempunyai tanggungjawab terhadap sukses terselenggarakanya kegiatan seminar nasional. Karena dia ada posisi sebagai ketua yang mempunyai peran penting dalam kegiatan tersebut. Dalam suatu organisasi apapun, pemimpin memegang peran yang penting. Bahkan segala sesuatu akan bangkit dan jatuh karena pemimpin. Disimpulkan bahwa posisi Ilham di sini sangat strategis dalam tersuksesnya kegiatan seminar nasional. Jika kegiatan ini nantinya sukses, bukan tidak mungkin citra organisasi yang menaunginya seperti prodi, fakultas sampai universitas menjadi baik.

Maka, keputusan yang saya rekomendasikan kepada Ilham adalah memilih untuk memimpin rapat kegiatan seminar nasional. Namun, konsekuensinya adalah dia tidak dapat mengikuti responsi. Langkah selanjutnya yang tebaik adalah meminta memberikan informasi yang sebenarnya tentang alasan tidak mengikuti responsi kepada dosen pengampu. Sehingga nantinya dosen memberikan kebijakan yang berpihak kepada Ilham. JJJ
http://blog.umy.ac.id/bridgingakt11/

Tugas ke-2: Academic Ethics and Quality Standard



Artikel di sini sebagai CONTOH untuk soal diatas.

 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Desember 2011

Mentor Bridging Akuntansi 2011


JADWAL MENTOR


BRIDGING MAHASISWA AKUNTANSI 2011




“Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant”




















































No



Kelas



Mentor



1



A




  1. Bagus

  2. Ita Elinawati



2



B




  1. Hendri panuntun

  2. Raimarsya Fajar



3



C




  1. Rika Surgawati

  2. Regie



4



D




  1. Sri Budi Rezeki

  2. Racharjaya



5



E




  1. Rodez Medo

  2. Restu Widyaningsih



6



F




  1. Joni R. Hidayat

  2. Fitriyani



7



G




  1. Betty

  2. Anung Endah



8



H




  1. Gatot Ahmat S

  2. Evi Rahman Utami


Jadwal Kegiatan Bridging Akuntansi 2011


JADWAL KEGIATAN BRIDGING MAHASISWA AKUNTANSI 2011

“Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant”












































































































No



KELAS /RUANG



HARI



JAM



TANGGAL



KEGIATAN


1A, B, C,D,E, F, G, HSabtu06.00 – 15.0003 Des 2011Pembukaan
2ruang: D.1.12

ruang: D.1.05
Kamis13.00 – 15.0008 Des 2011Pertemuan 1
15 Des 2011Pertemuan 2
22 Des 2011Pertemuan 3
05 Jan 2012Pertemuan 4
ruang: D.07Jum’at16.00 – 18.0009 Des 2011Pertemuan 1
16 Des 2011Pertemuan 2
23 Des 2011Pertemuan 3
06 Jan 2012Pertemuan 4
ruang: D.1.02

ruang: D.02

ruang Sidang FE
Jum’at13.00 – 15.00

Kelas F pkl. 07.00
09 Des 2011Pertemuan 1
16 Des 2011Pertemuan 2
23 Des 2011Pertemuan 3
06 Jan 2012Pertemuan 4
ruang: D.1.12

ruang: D.08
Jum’at15.30 – 17.3009 Des 2011Pertemuan 1
16 Des 2011Pertemuan 2
23 Des 2011Pertemuan 3
06 Jan 2012Pertemuan 4
3A, B, C,D,E, F, G, HSabtu06.00 – 15.0021 Jan 2012Penutupan